Di Tanah Baru, Sekolah bukan Monopoli Kaum Muda

Di Tanah Baru, Sekolah bukan Monopoli Kaum Muda

- in Komunitas, Sie Bidpuan
405
0
IMG-20170426-WA0057

(Tanah Baru 27/4)Rumah Keluarga Indonesia (RKI) Unit Perempuan dan Ketahanan Keluarga Tanah Baru mengadakan kegiatan Sekolah Untuk Ibu-ibu dalam bentuk Seminar Parenthing, Sabtu 22 April 2017. Seminar ini bertempat di Mushola An Nahl, Komplek Ar Royyan Tanah Baru yang juga merupakan salah satu RT percontohan Ramah Anak di Depok. Alhamdulillah kegiatan Sekolah Ibu-ibu mendapat sambutan yang cukup baik dari para ibu di Tanah Baru dan sekitarnya. Seminar ini dihadiri oleh 89 orang peserta Ibu-ibu dan juga dihadiri oleh beberapa peserta Bapak-bapak. Jumlah ini tidak jauh berbeda jumlahnya dengan kegiatan Lauching Sekolah Untuk Ibu I yang diadakan pada tanggal 11 Maret 2017 lalu dengan peserta 95 orang.

IMG-20170427-WA0000

Sekolah Ibu ini bertujuan sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat umum khususnya para Ibu dalam mewujudkan
generasi yang religius, kokoh & harmonis. “Mau Sukses apa saja, syaratnya pake ilmu. Sukses masuk surga pake ilmu. Sukses kuliah pake ilmu. Sukses bisnis pake Ilmu. Sukses menjadi orang tua juga pake ilmu. Dan…. ilmu hanya didapat dengan kesungguhan. Datangi tempat-tempat belajar dengan antusias. Orang yang disiplin dengan dengan orang yang bersungguh-sungguh pasti berbeda dengan orang-orang biasa. Mari… belajar dari buaian hingga liang lahat. Itulah kenapa Sekolah Ibu ini hadir untuk masyarakat khususnya kaum ibu”, ujar Penanggung Jawab Sekolah Ibu, Siti Nurbadriyah.
Seminar Parenting Sekolah Ibu II yang mengangkat tema “Mendidik Anak Laki-laki & Perempuan, Apa bedanya?”
menghadirkan Ibu Emmy Soekresno, S.Pd sebagai narasumber. Beliau adalah seorang Penulis Buku, Trainer, Konselor Pendidikan, Praktisi Pendidikan yang konsen di Dunia Anak, Penggagas & Owner Sekolah Jerapah Kecil, Alumni “Holistic Education for Muslim Children’ Singapore. Ibu Emmy memaparkan bahwa, “Pada dasarnya anak perempuan lebih sulit dalam melaksanakan kegiatan yang membutuhkan motorik dibandingkan anak laki-laki. Dalam mendidik anak perempuan kita harus membimbingnya agar anak paham bahwa kelak ketika dewasa dia harus mentaati suaminya. Sedangkan dalam mendidik anak laki-laki kita harus mempersiapkan bahwa kelak si anak akan menjadi seorang pemimpin bagi keluarganya.

Pengasuhan anak perempuan harus bersama dengan ayahnya, karena peran ayah dapat menghindarkan anak perempuan
dari “gangguan/rayuan” laki-laki lain. Sedangkan mendidik seorang anak laki-laki harus dekat dengan ibunya, agar kelak dia dapat menghargai wanita dan tidak melecehkannya.” Pesan yang juga disampaikan oleh Ibu Emy adalah orang tua tidak boleh membiarkan anak-anaknya yang sudah baliq sendirian di dalam kamar tanpa pengawasan, apalagi pintu kamar di kunci. Kita harus mengetahui apa yang dilihat atau dilakukan oleh anak. Jangan seratus persen percaya pada anak, karena seorang anak yang memasuki masa Aqil Baliq, secara fisik mereka sudah baliq, tetapi secara akal mereka belum siap. Sehingga anak-anak kita masih sangat butuh bimbingan orang tua sampai tiba waktunya nanti.

Kegiatan ini dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran dan sharing komunikasi para ibu di Tanah Baru dan sekitarnya. Sebagian besar peserta berharap kegiatan parenting “Sekolah Ibu” dapat berlanjut secara rutin dilakukan dengan tema yang bervariasi. Dan para Ibu juga berharap selain ada Sekolah Ibu hadir pula Seminar Parenting untuk Ayah, karena tugas mendidik anak bukan hanya menjadi tugas seorang ibu, tetapi bersama-sama dengan ayah. (JH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *