Gembiranya Belajar Puasa

Gembiranya Belajar Puasa

- in Opini
784
0
images

Marhaban ya Ramadhan!

Sejak beberapa waktu menjelang Ramadhan, gadis-gadis cilik ummi mulai dikondisikan akan hadirnya bulan puasa. Tentu saja puncaknya yang paling disukai tiga bocilku, menghias dan membuat pernik-pernik hiasan menyambut Ramadhan. Sehingga jangan kaget ya kalau masuk ke dalam rumah saya seperti masuk taman kanak-kanak, penuh keceriaan (banyak tempelan karya anak di tembok).

Nah, di rumah, ada anak kecil yang sedang belajar puasa. Alhamdulillah masuk hari ke-7 Ramadhan, dan Kimmy dari awal Ramadhan s.d hari ini selalu full puasanya sampai maghrib.

Bagaimana rasanya punya anak kecil yang sedang belajar puasa? Buat saya itu suatu tantangan yang seru dan menyenangkan. Jangan diambil beban dan pusing dengan komentar sekitar, fokus pada tujuan kita saja, sehingga kita pun santai dalam mendampingi anak kita yang sedang belajar beribadah.

Ingat, anak-anak belum wajib berpuasa. Apalagi yang masih balita atau anak-anak yang masih sekolah taman kanak-kanak. Jadi mereka saat ini dalam proses belajar. Latihan. Mengenal ibadah Ramadhan. Tidak ada target yang saklek atau keharusan, harus gini dan gitu layaknya orang besar. Walau tak masalah jika di awal kita membuat agenda ramadhan yang nanti anak kita isi, semacam penyemangat dan pemberi motivasi anak, karena tentu menyenangkan hati mereka jika agendanya terisi penuh. Oleh karena itu, buat agenda ramadhan yang juga sesuai dengan kesanggupan anak, agar anak tidak malah jadi layu semangatnya karena tak mampu mengisi bintang-bintang di agenda ramadhannya. Seperti Kimmy yang semangat puasa tapi sholatnya masih bolong-bolong. Namanya anak-anak, sudah bangun sahur dan ikut sahur pun sudah alhamdulillah, sehingga ketika sesekali dia bilang seusai makan sahur, “ngantuk mi, mau bobo lagi”. Ya jika bujukan untuk mengajak sholat subuh berjamaah belum mempan, umminya jangan kecewa berat, ingat anak-anak masih belajar. Toh di lain waktu dia juga semangat sholat subuh berjamaah. Pelan-pelan saja, berarti ini masih pe er besar untuk ummi.

Memaksa anak menurut saya adalah cara yang paling instan agar anak menurut dan patuh pada keinginan kita, tapi memberi efek kurang baik untuk anak ke depannya. Apalagi jika memaksa itu dilakukan dengan ancaman, apalagi dengan kekerasan, big no!

Hati anak-anak itu lembut, pun ajakan untuk beribadah juga diperkenalkan dengan berproses, step by step, dikenalkan dengan cara yang menyenangkan. Karena saya percaya kesan pertama yang membekas itu diawali dengan pengenalan yang menyenangkan. Dan yang paling penting, untuk anak, mereka butuh role model. Siapa lagi teladan utama anak di rumah jika bukan dari kedua orangtuanya.

Agar anak nanti bisa puasa full sampai maghrib, kalau saya mulai mengenalkan di usia 4-5 tahun, dengan ikut aktivitas sahur dan biarkan anak puasa sesanggupnya. Dulu waktu putri sulung saya, Haura masih playgroup, buka puasanya itu setelah pulang sekolah yakni jam 10, lalu meningkat menjadi setengah hari saat azan zhuhur berkumandang, lalu meningkat lagi menjadi saat azan ashar berkumandang, sehingga di usia 6 tahun, kakak Haura sudah mampu puasa full sampai maghrib. Begitu pula yang saya terapkan untuk mengenalkan puasa pada Kimmy dan Eta. Step by step, berproses.. dan sabar.

Eta yang belum genap berusia 4 tahun saat ini, memang belum belajar puasa, tapi dia sudah dikenalkan dengan aktivitas ramadhan, seperti ikut bangun sahur, sholat tarawih jika dia mau, mengaji (iqro) dan menghormati kakaknya yang sedang berpuasa terutama kakak kimmy yang masih taraf belajar puasa. Coba bayangkan ketika siang hari saat sedang haus-hausnya, adiknya yang belum puasa itu minum susu dingin di depan kakaknya yang lagi belajar puasa, bagaimana gak ngiler kan? Sehingga Eta walau belum berpuasa, diajarkan untuk makan dan minum tidak di depan kakaknya yang sedang puasa. Dan itu berhasil, loh. Ternyata anak-anak itu pintar, jika diajak bicara baik-baik, diberikan alasannya, mereka paham. Masak orang dewasa aja kalah ya sama anak-anak, yang menjalankan ibadah “puasa” disuruh menghormati yang “gak puasa”, aneh bin aneh. Padahal dari zaman dahulu kala itu, hal itu sudah lazim dan suasana adem ayem aja tuh ketika diminta menghormati yang berpuasa, sekarang aja nih gitu aja diributin, dengan dalil toleransi. Nanti akan ada yang protes lagi, kenapa azan pake speaker, kan mengganggu ketenangan orang banyak, udah diingetin aja pake miscall, dst. Logika yang dibolak-balik padahal ujung-ujungnya demi kepuasan/kepentingan segelintir orang yang ingin mengobok-obok agama.

Back to tentang belajar puasa. Saat ngobrol-ngobrol dengan para ibu teman sekelas Kimmy di kelas TK B1, lucu-lucu banget melihat berbagai gaya anak belajar berpuasa. Ada yang dikit-dikit buka kulkas, mau ngadem katanya. Ada yang beraksi lemas selemas-lemasnya sehingga akhirnya membuat hati ibu luluh dan anak boleh buka. Ada yang dikit-dikit nanya jam, tapi jika ibunya bilang “adek mau buka, buka aja gapapa”, dia menjawab “nggak, aku mau puasa”, dan Kimmy juga sama seperti teman-temannya, bedanya di rumah ini ada kakak Haura yang hebat, alhamdulillah di saat ummi lagi hamil gede gini, untuk jalan aja berat, eh ada si sulung penghibur adiknya. Kalo Kimmy mulai nanya-nanya jam, “mi, masih berapa jam lagi bedug magrib?” Kakak Haura udah buru-buru mengalihkan perhatian adiknya dengan mengajak main sang adik sehingga Kimmy jadi lupa sama laper/hausnya. Ih senang banget kan ummi melihatnya. Kekuatan persaudaraan.

Berikut sedikit tips melatih anak berpuasa ala saya, silakan ditambahkan lagi ya :

1. Persiapkan hatinya.

Antara lain dengan menjelaskan pada anak tentang apa itu puasa, secara santai dan pelan-pelan. Bisa lewat cerita, nonton film kartun tentang puasa, dst. Kimmy suka banget nonton episode upin ipin ramadhan. Ceritakan pula kisah para nabi, para sahabat, dsb.

Lalu, bangun suasana heboh serunya berpuasa, bisa dimulai dengan “ayo siapa yang mau ikut ayah dan ummi puasa?”, ummi bisa tanya menu apa yang mau dimakan anak untuk sahur/berbuka, dst. Jauhkan kesan menyeramkan tentang puasa.

2. Perhatikan Fisik Anak.

Anak-anak akan bersemangat jika menyenangi sesuatu. Demikian juga dengan puasa. Kalau suka dan mau, anak melupakan yang lain. Nah khusus untuk menghadapi puasa, sebaiknya periksa/cek kesehatan anak. Jika anak sedang kurang sehat, kita bisa menjelaskan kepada anak untuk menunda puasanya sampai tubuhnya sehat. Lalu jika anak secara fisik sehat, kita bantu menjaga staminanya agar tidak mudah drop. Salah satunya dengan menyediakan menu yang bergizi untuk anak.

3. Buat sahur itu menyenangkan.

Bagi orang dewasa, bangun selagi asyik tidur saja terasa berat, lebih-lebih anak-anak. Sehingga perlu trik khusus agar anak mudah bangun puasa tanpa membuatnya trauma. Usapan sayang saat membangunkan, panggilab yang lembut, menyediakan makanan dan minuman kesukaan anak, dan ditemani saat sahur adalah beberapa cara agar anak bersemangat sahur. Saya suka makan sahur terlebih dulu agar bisa menemani yang sedang belajar puasa. Permudah anak untuk makan, seperti kalau saya suka memotong-motong lauk sesuai suapan anak, sehingga anak tinggal menyuap tanpa susah memotong-motong lagi. Lalu agar matanya melek, saya setelkan acara favoritnya.

4. Siapkan hadiah.

Mungkin ada yang tidak sepakat dengan tips ini. Nanti membuat anak jadi pamrih, dst. Ah, menurut saya mah anak-anak ini masih kecil, lagi proses belajar puasa, tentu jadi menambah semangat jika diberi reward/hadiah. Lagipula lihat usia anaknya dong, yang masih diiming-imingi hadiah kan yang anak usia TK dan SD awal (kelas 1-2). Kalo sudah 8 tahun ke atas sudah tak perlu iming-iming hadiah, tapi lebih kita kedepankan pemahamannya kenapa kita berpuasa. Di usia 8 tahun ke atas, anak-anak sudah paham konsep.

Oiya, yang perlu diingat untuk kita orangtua, melatih anak berpuasa ini bukan untuk keren-kerenan atau ingin mendapat pujian. Tapi tujuannya adalah mempersiapkan anak untuk mencintai dan menyenangi ibadah yang diperintahkan Allah swt. Jadi buatlah suasana menyenangkannya yaaa..

Jangan tergesa-gesa, SABAAAR…

Tiap anak berbeda-beda, bahkan yang berasal dari rahim tmyang sama. Bersabarlah dalam mendampingi proses belajar anak, sesuaikan dengan kemampuannya.

Semua ini kita lakukan agar masa belajar ini berkesan mendalam untuk anak kita, sehingga saat tiba masa anak wajib berpuasa, ia mampu menjalankannya dengan penuh kesadaran.

12 Juni 2016,

With love dari seorang yang masih belajar menjadi ibu..

Wini Afiati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *