Muslimah ini Bernama Kartini

Muslimah ini Bernama Kartini

- in Sie Bidpuan
1228
0
PKS hari kartini 21 April

Putri Indonesia ini, sungguh harum namanya..

Bagaimana namanya tidak harum? Pendekar bangsa dan pendekar kaumnya ini seolah tak pernah selesai dibicarakan, ditulis untuk diulas, didiskusikan untuk dibahas. Bukan saja oleh sejarawan atau penulis dari negeri sendiri, tapi juga mendapat sorotan dari masyarakat luar, dengan berbagai sudut pandang dan juga kepentingan. Yang tak jarang mengundang berbagai kontroversi.

Tentu saja namanya seharum bunga! Karena seabad telah lewat, tapi Nama RA Kartini terus mewangi. Cita-citanya menemani semangat setiap perempuan untuk mewujudkan mimpinya. Langkahnya seakan menuntun perjalanan bakti kaum ibu. Dan pemikirannya mungkin menghiasi setiap lembaran buku harian perempuan Indonesia, dengan segala versi pemikiran dan keyakinan, yang bahkan mungkin telah menyimpang dari garis perjuangan beliau.
Sekarang, kami tak hendak larut dalam kontroversi tentang siapa dan bagaimana RA. Kartini (1879 – 1904).

Terutama menyangkut masalah aspek spiritual keagamaan tokoh emansipasi wanita ini. Paling tidak sudah ada tiga buku yang sarat kepentingan untuk menjawabnya dan lebih pada subyektivitas penulisnya. Sebut saja karya penulis Pramoedya Ananta Toer “Panggil Aku Kartini saja”, lalu buku “Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia” karya sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara dan buku “Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini” oleh TH Sumartana. Kami persilahkan pembaca untuk menilainya sendiri.

Tapi sebagai perempuan Islam, kami ingin mengangkat sisi kemuslimahan Kartini yang terserak dalam catatan hariannya maupun surat-suratnya selama berkorespondensi dengan para sahabatnya. Yuk mari kita simak..
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-tama” (Surat kepada profesor Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901)

Emansipasi yang diangkat Kartini bukanlah kesetaraan gender yang digaungkan oleh para feminis saat ini. Tak ada keinginan untuk menyaingi kaum laki-laki. Semua hanyalah karena Kartini paham benar dengan slogan “Al Ummu Madrasatul Ula”, Ibu adalah sekolah yang pertama dan utama. Fitrah perempuan adalah mendidik dengan kasih sayang. Diperlukan ibu yang cakap, cerdas dan unggul untuk mempersiapkan generasi, maka pembelajaran dan pengajaran untuk kaum perempuan adalah mutlak. Tak ada halangan bagi wanita masa kini menuntut ilmu dan mengembangkan potensinya. Karena sungguh, ratusan tahun silam, ummul mukminin (ibunda kaum beriman) sayyidatina Aisyah RA telah meneladankan hal ini. Aisyah RA adalah wanita cerdas, ulama dan intelek muslimah, menguasai ilmu sastra, sejarah dan ilmu pengobatan. Dialah pembelajar sejati, Aisyah ra mempelajari ilmu keagamaan mulai dari penyempurnaan kemanusiaan, pemurnian aqidah, prinsip-prinsip agama dan rahasia-rahasia syariat, pengertian tentang hukum serta ilmu tentang Al-Quran dan sunnah. Maka dengan alasan apalagi, bila kita para perempuan hanya ingin berdiam diri tanpa ada kontribusi dengan segala potensi yang melekat pada diri kita?

“Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai” (surat RA Kartini Kepada Nyonya Nielle Van Koll, 21 Juli 1902)

Aduhai, alangkah mulia tekad dan keinginan beliau. Kartini sadar, bahwa setiap muslim kemanapun melangkah akan membawa misi Islam yang rahmatan lil ‘aalamiin. Dalam kondisi bagaimanapun setiap muslim adalah da’i yang bekerja mempertontonkan dirinya sebagai teladan, menunjukkan citra Islam yang sejati yang akan membuat agama ini disukai. Ini sungguh luar biasa! Karena harapan itu lahir dari perempuan muda yang termajinalkan, yang hidup lebih dari seabad lalu. Maka menangislah kita, bila belum mampu berbuat untuk agama ini.
“Bagi saya hanya ada keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. Apakah sudah berarti beramal shaleh, orang yang bergelar Graaf atau Baron itu?” (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)

Tak diragukan lagi, hanya pikiran dan budi pekerti yang dinikmati keelokannya, hanya taqwa yang menentukan kemuliaan seseorang dan hanya amal shalih yang menjadi sahabat di alam kesendirian. Kartini tak lagi peduli dengan aturan tradisi dan tata krama yang membuat perempuan tak lebih dari obyek semata, sebagai teman belakang dan bahkan dianggap setengah manusia. Karena sesungguhnya Islamlah yang justru mengangkat derajat kaum Ibu. Bukankah tiga kali Rasulullah mengurutkan sosok Ibu sebagai orang yang pertama kali wajib dihormati.
“Manusia itu berusaha, Allahlah yang menentukan” (Surat Kartini kepada Nyonya Ovink Soer, Oktober 1900)
Inilah tawakkal, Kartini mengajarkan dan mengingatkan kita untuk berorientasi terhadap proses, bukan pada hasil semata. Kita tak bisa menafikan setiap tetes peluh dan darah, karena ada perjuangan di sana, ada pengorbanan yang akan memuliakan kita. Bekerjalah dan biarkan Allah, Rasul dan kaum mukminin menjadi saksi setiap kerja kita.
Karenanya proses perjuangan Kartini tentu belum selesai, dan mungkin hasilnya tak seperti yang diharapkannya. Kita menyadari perjalanan Kartini adalah perjalanan panjang, namun Allah menakdirkan 25 tahun saja Kartini di tinggal di dunia ini. Maka jangan salahkan Kartini bila tak merampungkan mimpinya, toh Kartini telah berusaha mendobrak tradisi, telah menyuarakan hajat kaumnya. Yang kita salahkan adalah mereka yang menyalahartikan perjuangan dan keinginan Kartini. Cukuplah Kartini terwakili dengan apa yang tersirat dalam kumpulan suratnya, “Door Duisternis Tot Licht” yang terlanjur diartikan dengan istilah “Habis Gelap Terbitlah Terang” oleh Armijn Pane.

Padahal Prof Haryati Soebadio (cucu tiri Kartini), mengartikannya sebagai “Dari Gelap Menuju Cahaya” yang tak lain berasal dari firman-Nya yang merupakan inti dari dakwah Islam, “Minazh Zhulumati ilan Nuur” QS. 2:257, membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah) menuju tempat yang benderang (petunjuk). Itulah yang ingin dikerjakan Kartini, sebuah dakwah yang menjadi suluh menuju jalan kebenaran-Nya.

Sebagai penutup, ada satu kalimat dalam suratnya, yang akan melemparkan kita kembali pada hakikat keberadaan kita di bumi ini:
“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah” (Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 1 Agustus 1903)

Cukuplah sudah Kartini menggugah kita kaum perempuan, menjadi hamba Allah adalah gelar tertinggi. Tugas kita menjadi muslimah yang kokoh dan transformatif, bangkit bekerja melayani masyarakat ini dengan segenap bakti. Menjadi perempuan Indonesia yang menempatkan iman, ilmu dan amal sebagai panglima di jiwanya. Hingga di sini, marilah selalu bertanya pada diri ini, apa yang telah kita perbuat untuk diri, keluarga, lingkungan dan masyarakat kita? Apa yang telah kita berikan kepada umat ini, kepada seluruh alam dan segenap makhluk-Nya? Karena sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjian dengan kita, menjadi abdi dan khalifah-Nya di muka bumi. (SD)

Terima kasih ibu Kartini..

Siepuan DPC PKS Beji
*Rujukan dr berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *